Selasa, 16 Desember 2014

Makalah Kewirausahaan



BAB 1 PENDAHULUAN



Di era globalisasi seperti saat ini kegiatan perekonomian meningkat sangat cepat dan mengakibatkan dunia usaha berkembang semakin cepat dan bergerak ke segala arah, terutama usaha di sektor “Jasa”, dan umumnya sektor lainnya seperti pariwisata semakin ramai dan mengakibatkan persaingan semakin ketat, sehingga setiap perusahaan-perusahaan yang bersaing tersebut mempunyai masalah yang berbeda-beda.
Setiap permasalahan yang timbul dalam perusahaan tersebut perlu diselesaikan dengan keseksamaan dan kecermatan agar hasil yang dicapai dapat menambah keuntungan bagi perusahaan ditengah-tengah persaingan yang semakin ketat inilah dituntut paranan dari pada seseorang manajer untuk dapat melakukan tindakan efisiensi disegala bidang baik dari segi produksi, pemasaran, financial, maupun dari segi operasionalnya. Dengan adanya tindakan efisiensi ini maka perusahaan sejenis, terutama dalam bidang marketing yang merupakan ujung tombak bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya. (Cahyono, 1999)
Perputaran modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun modal kerja. Seperi  telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal kerja terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.
Salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang, dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.
Namun, banyak perusahaan yang kurang memperhatikan penetapan harga dengan baik. Kesalahan yang paling umum adalah sebagai berikut :
Pertama adalah penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya.
Kedua, harga kurang sering direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. Ketiga, harga ditetapkan secara independen dari bauran pemasaran lainnya dan bukannya sebagai unsur intrinsik dari strategi penentuan posisi pasar. Keempat, harga kurang cukup bervariasi untuk berbagai macam produk, segmen pasar, dan saat pembelian.

a.       Untuk mengetahui pengertian pengelolaan modal.
b.      Untuk mengetahui akun-akun modal kerja.
c.       Untuk mengetahui pengertian harga.
d.      Untuk mengetahui tujuan penetapan harga.
e.       Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi harga.
f.       Untuk mengetahui metode penetapan harga.
g.      Untuk mengtahui strategi penetapan harga.

















BAB II PEMBAHASAN



Pengertian modal kerja adalah jumlah kekayaan atau aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di bank, piutang usaha dan persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi, ditambah kewajiban atau pasiva lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka pendek. Dengan demikia maka manajemen modal kerja merupakan semua kegiatan dalam rangka pengelolaan aktiva lancar dan pasiva lancar.
Perputaran modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun modal kerja. Seperi  telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal kerja terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.

Intisari tugas manajemen dalam pengelolaan arus kas adalah melakukan monitoring terhadap arus kas. Dalam bisnis yang sehat arus kas masuk dan kas keluar harus berjalan lancar. Sebaliknya apabila terjadi ketidak lancaran dalam arus kasm pengelola usaha harus menjadikan kondisi ini sebagai indikasi bahwa telah terjadi kekurang sehatan usaha. Sebagai contoh, arus kas masuk terjadi ketika produsen menjal barang atau jasa kepada konsumen, dan arus kas keluar terjadi ketika perusahaan melakukan kegiatan operasional. Kegiatan operasional disini termasuk didalamnya kegiatan melakukan investasi. Investasi inipun memiliki pengertian yang luas, antara lain, seperti penyertaan, pembangunan infrastruktur guna memperoleh ambahan pendapatan bagi kegiatan usaha.
Dalam rangka menjaga keseimbangan antara arus kas masuk dan arus kas keluar, maka perlu diatur dan dipahami oleh seluruh unit kerja yang terkait. Dalam kegiatan usaha baik arus kas masuk maupun arus kas keluar terjadi melalui berbagai transaksi dan mutasi.
Piutang usaha merupakan kekayaan perusahaan yang berupa tagihan kepada pelanggan atau rekananlainnya. Dengan demikian kekayaan di perusahaan belum berupa kas tunai melainkan masih berupa dokumen-dokumen penagihan, yang berupa nota, faktur, kuitansi, dan sejenisnya. Oleh karena itu perlakuan yang baik, dalam arti diadministrasikan secara teratur dan terjaga keamanannya. Mutasi dan pembukuan yang terjadi setiap saat yang harus dicatat dengan cermat dan konsisten.
Pengaruh piutang usaha terhadap kas sangat besar, karena apabila piutang dapat ditagih atau dibayar oleh pelanggan, maka jumlah kas meningkat. Sebaliknya apabila tagihan tidak berhasil ditagih maka posisi kas meningkat. Pengalaman dalam praktek, menunjukkan bahwa semakin tua usia piutang semakin sulit ditagih. Oleh karena itu setiap pelaku usaha harus berusaha untuk memperpendek usia piutang. Usaha menagih piutang usaha harus secepat mungkin yang apabila perlu kepada tertagih berikan insentip agar bersedia membayar lebih cepat. Dalam kondisi sulit dan kondisi terdesak pelaku usaha dapat menggadaikan piutang kepada lembaga pembiayaan untuk mendapatkan sejumlah tunai.

c.        Pengelolaan Hutang Usaha
Hutang usaha merupakan kebalikan dari piutang usaha. Usaha merupakan kewajiban perusahaan kepada pemasok dan rekanan lainnya, yang berupa membayarkaan sejumlah kas sesuai dengan syarat-syarat pembelian. Biasanya dalam syarat pembelian jangka waktu pembayaran telah ditentukan. Apabila perusahaan membayarkan kewajibannya maka posisi kas perusahaan berkurang. Sebaliknya selama hutang belum dibayar, maka posisi kas perusahaan tidak mengalami perubahan. Hutang menjadi masalah apabila kewajiban bayar telah jatuh tempo, tidak tersedia dana untuk menyelesaikan kewajiban membayar. Guna mengatasi masalah tersebut, pelaku usaha dapat melakukan negosiasi dengan pemasok. Negosiasi dalam dilakukan dengan mencoba memperingatkan kewajiban membayar, mulai penangguhan waktu bayar, mengajukan potongan, sampai dengan re-negosiasi ulang mengenai syarat-syarat pembayaran. Biasanya para pemasok bersikap kooperaif menghadapi pelanggannya yang mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan pemasok juga menginginkan pelanggannya mampu mengatasi masalahnya.

Persediaan adalah sejumlah material yang meliputi bahan baku, bahan pembantu dan barang jadi yang belum sempat dideliveri kepada pelanggan. Ketersediaan persediaan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses produksi. Keterlambatan atas persediaan akan mengganggu proses produksi dan apabila tidak segera diatasi akan berpengaruh terhadap pemasaran perusahaan. Jumlah persediaan yang terlalu besar tidak selalu menguntungkan, bahkan bisa sangat merugikan. Jumlah persediaan yang terlalu besar, berarti uang yang tertanam juga besar namun tidak produksi. Disamping itu persediaan yang terlalu besar mengandung resiko, seperti kerusakan, kebanjiran, kebakaran dan atau dicuri  orang. Oleh karena persediaan harus dikelola dengan tepat.
Dalam praktek sering terjadi pelaku usaha menimbun persediaan terlalu besar, dengan alasan karena khawatir pesanan meningkat sementara persediaan telah menipis. Alasan lain karena hubunganyang baik dengan pemasok, mendorong pelaku usaha untuk membeli lebih banyak. Alasan lainnya, seringkali pemasok juga membuat perusahaan merasa khawatir terhadap kenaikan harga dengan mengatakan beli sekarang, karena harga akan naik.





Dalam konteks ini dapat didefinisikan beberapa pengertian harga, menurut para ahli sebagai berikut :
“,Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk atau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya (Sumarni, 1993)”
Ahli lain menyatakan bahwa harga adalah :
Sejumlah uang tertentu untuk ditukarkan satu unit barang atau jasa (Anorga, 1993)
Sedangkan menurut Sofyan Assauri (1988), “ bahwa barang merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya hanya merupakan unsur biaya saja”.
Untuk memutuskan harga, berbagai pertanyaan harus dijawab, mulai dari penentuan harga untuk sebuah produk baru sampai kepada penentuan kembali harga produk lama. Disamping itu, strategi harus merumuskan untuk merebut keuntungan promosi dari perubahan tingkat harga lama, atau sebaliknya perubahan oleh para penjual-lagi/ reseler (Rosini Sukanta, 1994).
Dalam sejarahnya, harga umumnya ditentukan oleh paraa pembeli dan penjual yang saling berunding. Melalui transaksi tawar menawar, mereka akan sampai pada harga yang dapat ditrima oleh masing-masing (Kotler, P, 1993).

Disamping untuk mengetahui lingkungan pasar dimana harga-harga itu akan ditetapkan, manajer pemasaran harus juga merumuskan dengan jenis tujuan-tujuan pemasarannya. Sebagai hasil studi Broonkings Institution dan sebuah artikel jurnal yang menyertakan salah seorang penyelidik utama pmasaran, telah ditetapkan harga yang terpenting dalam perusahaan-perusahaan besar Amerika.
Sasaran terpenting yang dikejar oleh 20 perusahaan dalam sample (contoh) yang dipelajari itu adalah :
1.      Penetapan harga untuk mencapai suatu target Return On Invesment (ROI) atau Pengembalian atas Investasi
2.      Stabilitas harga dan margin.
3.      Penetapan harga untuk mencapai suatu target Marketing Share.
4.      Penetapan harga untuk mengatasi atau mencegah persaingan.
5.      Penetapan harga untuk memaximumkan laba.

1.      Kondisi Perekonomian
2.      Penawaran dan Permintaan
3.      Elastisitas Permintaan
4.      Persaingan
5.      Biaya
6.      Tujuan Manajer
7.      Pengawasan Pemerintah

Setelah perusahaan menentukan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai, maka langkah atau tahapan selanjutnya adalah menentukan metode penetapan harga. Secara umum metode penetapan harga terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni :
1.      Penetapan harga berdasarkan biaya
a)      Penetapan Harga Biaya Plus
Di dalam metode ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang dikehendaki pada unit tersebut (margin).
Rumus : Biaya Total+Margin= Harga Jual
b)     Penetapan Harga Mark-Up
Untuk metode Mark-Up ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung harga pokok pembelian per unit ditambah (Mark-Up) jumlah tertentu.
Rumus : Harga Beli+Mark-Up= Harga Jual
c)      Penetapan Harga BEP (Break Even Point)
Metode penetapan harga berdasarkan keseimbangan antara jumlah total biaya keseluruhan dengan jumlah total penerimaan keseluruhan.
Rumus : BEP=> Total Biaya = Total Penerimaan

2.      Penetapan harga berdasarkan harga pesaing/kompetitor
Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan harga kompetitor sebagai referensi, dimana dalam pelaksanaannya lebih cocok untuk produk yang standar dengan kondisi pasar oligopoli. Untuk menarik dan meraih para konsumen dan para pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi harga. Penerapan strategi harga jual juga bisa digunakan untuk mensiasati para pesaingnya, misalkan dengan cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan maksud untuk meraih pangsa pasar.

3.      Penetapan harga berdasarkan permintaan
Proses penetapan harga yang didasari persepsi konsumen terhadap value/nilai yang diterima (price value), sensitivitas harga dan perceived quality. Untuk mengetahui value dari harga terhadap kualitas, maka analisa Price Sensitivity Meter (PSM) merupakan salah satu bentuk yang dapat digunakan. Pada analisa ini konsumen diminta untuk memberikan pernyataan dimana konsumen merasa harga murah, terlalu murah, terasa mahal dan terlalu mahal dan dikaitkan dengan kualitas yang diterima.
Strategi penetapan harga adalah tahapan dimana perusahaan mengklasifikasikan dan menggolongkan produk atau jasa yang dihasilkannya merupakan ‘produk baru’ yang belum memiliki konsumen loyal/tetap atau ‘produk yang telah beredar’ yang telah memiliki pangsa pasar tersendiri.
Strategi penetapan harga ini juga berhubungan dengan siklus kehidupan produk (Product Life Cycle)dimana suatu produk memiliki empat tahapan utama yakni, Perkenalan, Pertumbuhan, Kematangan dan Penurunan.

Secara khusus strategi penetapan harga ini terdiri dari ;
Produk Baru
Dalam menetapkan strategi penetapan harga yang efektif untuk produk baru atau tahap perkenalan ini terdapat 2 (dua) alternatif strategi penetapan harga, yaitu
1)      Harga Mengapung (Skimming Price)
Memberikan harga tinggi untuk menutup biaya dan menghasilkan labamaksimum (perusahaan dapat meyakinkan konsumen bahwa produknya berbeda dengan produk sejenis yang lain.)
Pendekatan skimming sangat efektif jika terdapat diferensiasi harga pada segmen tertentu dan pesaing relatif sedikit. Skimming juga dapat dimanfaatkan untuk membatasi permintaan sampai perusahaan merasa siap untuk melakukan produksi masal. Apalagi skimming dapat meningkatkan nilai produk menjadi sangat prestisius.

2)      Harga Penetrasi        
Memberikan harga rendah untuk menciptakan pangsa pasar dan permintaan, strategi ini dapat diterapankan pada situasi pasar tidak terfragmentasi ke dalam segmen yang berbeda, serta produk tersebut tidak mempunyai nilai simbolis yang tinggi. Pendekatan ini juga efektif terhadap sasaran pasar yang sensitif harga.

Produk Yang Telah Beredar
Strategi penetapan harga untuk produk yang telah beredar ini tentunya tidak terlepas dari posisi produk atau jasa tersebut dari siklus kehidupan produk, dalam hal ini tahapan siklusnya berada pada 3 (tiga) tingkatan berikutnya setelah perkenalan yakni;
1)      Tahap Pertumbuhan
Pada tahap pertumbuhan ini ditandai dengan penjualan meningkat disertai munculnya pesaing. Pada awalnya terjadi pertumbuhan yang cepat, strategi yang diterapkan adalah tetap mempertahankan harga produk/pasar. Ketika pertumbuhan melambat, terapkan strategi harga agresif ; menurunkan harga untuk mendorong penjualan sekaligus menghadapi persaingan yang semakin ketat.
2)      Tahap Kematangan
Pada tahap kematangan, fleksibilitas harga merupakan kunci efektivitas strategi penetapan harga. Pada tahapan ini perusahaan harus benar-benar responsif terhadap situasi pasar, konsumen maupun pesaing. Strategi penetapan harga dapat menggunakan ‘psikologis konsumen’ maupun ‘pemotongan harga’ (diskon), sehingga perusahaan dapat menjaga loyalitas konsumen (pangsa pasar) dan meningkatkan jumlah permintaan dan keuntungan yang diperoleh.
3)      Tahap Penurunan
Tahap penurunan produk atau jasa ditandai dengan menurunnya jumlah permintaan secara terus-menerus, sebagai tahap terakhir daur hidup produk terdapat dua alternatif langkah utama yang dapat dipilih. Pertama, strategi diskonting (pemotongan harga) Kedua, mempertahankan harga tetapi memotong biaya-biaya yang berhubungan dengan produk, terutama pengeluaran untuk promosi.


BAB III PENUTUP



Modal kerja adalah jumlah kekayaan atau aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di bank, piutang usaha dan persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi, ditambah kewajiban atau pasiva lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.
Perputaran modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun modal kerja. Seperi  telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal kerja terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.
Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk atau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Secara umum metode penetapan harga terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni Penetapan harga berdasarkan biaya, Penetapan harga berdasarkan harga pesaing/kompetitor, dan Penetapan harga berdasarkan permintaan.

Sebaiknya materi ini untuk kedepan nya tetap ada dalam pengajaran mata kuliah Kewirausahaan, agar teman-teman mahasiswa dapat lebih mengtahui  tentang aspek-aspek dalam merintis suatu usaha baru, salah satunya adalah Pengelolaan Modal dan Teknik Penetapan Harga.