BAB 1 PENDAHULUAN
Di
era globalisasi seperti saat ini kegiatan perekonomian meningkat sangat cepat
dan mengakibatkan dunia usaha berkembang semakin cepat dan bergerak ke segala
arah, terutama usaha di sektor “Jasa”, dan umumnya sektor lainnya seperti
pariwisata semakin ramai dan mengakibatkan persaingan semakin ketat, sehingga setiap
perusahaan-perusahaan yang bersaing tersebut mempunyai masalah yang
berbeda-beda.
Setiap
permasalahan yang timbul dalam perusahaan tersebut perlu diselesaikan dengan
keseksamaan dan kecermatan agar hasil yang dicapai dapat menambah keuntungan
bagi perusahaan ditengah-tengah persaingan yang semakin ketat inilah dituntut
paranan dari pada seseorang manajer untuk dapat melakukan tindakan efisiensi
disegala bidang baik dari segi produksi, pemasaran, financial, maupun dari segi
operasionalnya. Dengan adanya tindakan efisiensi ini maka perusahaan sejenis,
terutama dalam bidang marketing yang merupakan ujung tombak bagi perusahaan
dalam mencapai tujuannya. (Cahyono, 1999)
Perputaran
modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun
modal kerja. Seperi telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal
kerja terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman
jangka pendek.
Salah
satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara
menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah
harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang, dan harga tersebut dapat
memberikan kepuasan kepada konsumen.
Namun, banyak perusahaan yang kurang memperhatikan penetapan harga dengan baik. Kesalahan yang paling umum adalah sebagai berikut :
Pertama adalah penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya.
Kedua, harga kurang sering direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. Ketiga, harga ditetapkan secara independen dari bauran pemasaran lainnya dan bukannya sebagai unsur intrinsik dari strategi penentuan posisi pasar. Keempat, harga kurang cukup bervariasi untuk berbagai macam produk, segmen pasar, dan saat pembelian.
Namun, banyak perusahaan yang kurang memperhatikan penetapan harga dengan baik. Kesalahan yang paling umum adalah sebagai berikut :
Pertama adalah penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya.
Kedua, harga kurang sering direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. Ketiga, harga ditetapkan secara independen dari bauran pemasaran lainnya dan bukannya sebagai unsur intrinsik dari strategi penentuan posisi pasar. Keempat, harga kurang cukup bervariasi untuk berbagai macam produk, segmen pasar, dan saat pembelian.
a. Untuk
mengetahui pengertian pengelolaan modal.
b. Untuk
mengetahui akun-akun modal kerja.
c. Untuk
mengetahui pengertian harga.
d. Untuk
mengetahui tujuan penetapan harga.
e. Untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi harga.
f. Untuk
mengetahui metode penetapan harga.
g. Untuk
mengtahui strategi penetapan harga.
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian modal kerja adalah jumlah
kekayaan atau aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di
bank, piutang usaha dan persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi,
ditambah kewajiban atau pasiva lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka
pendek. Dengan demikia maka manajemen modal kerja merupakan semua kegiatan
dalam rangka pengelolaan aktiva lancar dan pasiva lancar.
Perputaran modal kerja adalah rangkaian
kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun modal kerja.
Seperi telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal kerja terdiri
dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.
Intisari tugas
manajemen dalam pengelolaan arus kas adalah melakukan monitoring terhadap arus
kas. Dalam bisnis yang sehat arus kas masuk dan kas keluar harus berjalan
lancar. Sebaliknya apabila terjadi ketidak lancaran dalam arus kasm pengelola
usaha harus menjadikan kondisi ini sebagai indikasi bahwa telah terjadi
kekurang sehatan usaha. Sebagai contoh, arus kas masuk terjadi ketika produsen
menjal barang atau jasa kepada konsumen, dan arus kas keluar terjadi ketika
perusahaan melakukan kegiatan operasional. Kegiatan operasional disini termasuk
didalamnya kegiatan melakukan investasi. Investasi inipun memiliki pengertian
yang luas, antara lain, seperti penyertaan, pembangunan infrastruktur guna
memperoleh ambahan pendapatan bagi kegiatan usaha.
Dalam rangka menjaga
keseimbangan antara arus kas masuk dan arus kas keluar, maka perlu diatur dan
dipahami oleh seluruh unit kerja yang terkait. Dalam kegiatan usaha baik arus
kas masuk maupun arus kas keluar terjadi melalui berbagai transaksi dan mutasi.
Piutang usaha
merupakan kekayaan perusahaan yang berupa tagihan kepada pelanggan atau
rekananlainnya. Dengan demikian kekayaan di perusahaan belum berupa kas tunai
melainkan masih berupa dokumen-dokumen penagihan, yang berupa nota, faktur,
kuitansi, dan sejenisnya. Oleh karena itu perlakuan yang baik, dalam arti
diadministrasikan secara teratur dan terjaga keamanannya. Mutasi dan pembukuan
yang terjadi setiap saat yang harus dicatat dengan cermat dan konsisten.
Pengaruh piutang usaha
terhadap kas sangat besar, karena apabila piutang dapat ditagih atau dibayar
oleh pelanggan, maka jumlah kas meningkat. Sebaliknya apabila tagihan tidak
berhasil ditagih maka posisi kas meningkat. Pengalaman dalam praktek,
menunjukkan bahwa semakin tua usia piutang semakin sulit ditagih. Oleh karena
itu setiap pelaku usaha harus berusaha untuk memperpendek usia piutang. Usaha
menagih piutang usaha harus secepat mungkin yang apabila perlu kepada tertagih
berikan insentip agar bersedia membayar lebih cepat. Dalam kondisi sulit dan
kondisi terdesak pelaku usaha dapat menggadaikan piutang kepada lembaga
pembiayaan untuk mendapatkan sejumlah tunai.
Hutang usaha merupakan
kebalikan dari piutang usaha. Usaha merupakan kewajiban perusahaan kepada pemasok
dan rekanan lainnya, yang berupa membayarkaan sejumlah kas sesuai dengan
syarat-syarat pembelian. Biasanya dalam syarat pembelian jangka waktu
pembayaran telah ditentukan. Apabila perusahaan membayarkan kewajibannya maka
posisi kas perusahaan berkurang. Sebaliknya selama hutang belum dibayar, maka
posisi kas perusahaan tidak mengalami perubahan. Hutang menjadi masalah apabila
kewajiban bayar telah jatuh tempo, tidak tersedia dana untuk menyelesaikan
kewajiban membayar. Guna mengatasi masalah tersebut, pelaku usaha dapat
melakukan negosiasi dengan pemasok. Negosiasi dalam dilakukan dengan mencoba
memperingatkan kewajiban membayar, mulai penangguhan waktu bayar, mengajukan
potongan, sampai dengan re-negosiasi ulang mengenai syarat-syarat pembayaran.
Biasanya para pemasok bersikap kooperaif menghadapi pelanggannya yang mengalami
kesulitan. Hal ini disebabkan pemasok juga menginginkan pelanggannya mampu
mengatasi masalahnya.
Persediaan adalah
sejumlah material yang meliputi bahan baku, bahan pembantu dan barang jadi yang
belum sempat dideliveri kepada pelanggan. Ketersediaan persediaan sangat
menentukan terhadap kelangsungan proses produksi. Keterlambatan atas persediaan
akan mengganggu proses produksi dan apabila tidak segera diatasi akan
berpengaruh terhadap pemasaran perusahaan. Jumlah persediaan yang terlalu besar
tidak selalu menguntungkan, bahkan bisa sangat merugikan. Jumlah persediaan
yang terlalu besar, berarti uang yang tertanam juga besar namun tidak produksi.
Disamping itu persediaan yang terlalu besar mengandung resiko, seperti
kerusakan, kebanjiran, kebakaran dan atau dicuri orang. Oleh karena
persediaan harus dikelola dengan tepat.
Dalam praktek sering
terjadi pelaku usaha menimbun persediaan terlalu besar, dengan alasan karena
khawatir pesanan meningkat sementara persediaan telah menipis. Alasan lain
karena hubunganyang baik dengan pemasok, mendorong pelaku usaha untuk membeli
lebih banyak. Alasan lainnya, seringkali pemasok juga membuat perusahaan merasa
khawatir terhadap kenaikan harga dengan mengatakan beli sekarang, karena harga
akan naik.
Dalam konteks ini dapat didefinisikan
beberapa pengertian harga, menurut para ahli sebagai berikut :
“,Harga adalah jumlah uang (ditambah
beberapa produk atau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi dari produk dan pelayanannya (Sumarni, 1993)”
Ahli lain menyatakan bahwa harga adalah
:
Sejumlah uang tertentu untuk ditukarkan
satu unit barang atau jasa (Anorga, 1993)
Sedangkan menurut Sofyan Assauri (1988),
“ bahwa barang merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan
penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya hanya merupakan unsur biaya
saja”.
Untuk
memutuskan harga, berbagai pertanyaan harus dijawab, mulai dari penentuan harga
untuk sebuah produk baru sampai kepada penentuan kembali harga produk lama.
Disamping itu, strategi harus merumuskan untuk merebut keuntungan promosi dari
perubahan tingkat harga lama, atau sebaliknya perubahan oleh para penjual-lagi/
reseler (Rosini Sukanta, 1994).
Dalam sejarahnya, harga umumnya
ditentukan oleh paraa pembeli dan penjual yang saling berunding. Melalui
transaksi tawar menawar, mereka akan sampai pada harga yang dapat ditrima oleh
masing-masing (Kotler, P, 1993).
Disamping untuk mengetahui lingkungan
pasar dimana harga-harga itu akan ditetapkan, manajer pemasaran harus juga
merumuskan dengan jenis tujuan-tujuan pemasarannya. Sebagai hasil studi
Broonkings Institution dan sebuah artikel jurnal yang menyertakan salah seorang
penyelidik utama pmasaran, telah ditetapkan harga yang terpenting dalam
perusahaan-perusahaan besar Amerika.
Sasaran terpenting yang dikejar oleh 20
perusahaan dalam sample (contoh) yang dipelajari itu adalah :
1. Penetapan
harga untuk mencapai suatu target Return On Invesment (ROI) atau Pengembalian
atas Investasi
2. Stabilitas
harga dan margin.
3. Penetapan
harga untuk mencapai suatu target Marketing Share.
4. Penetapan
harga untuk mengatasi atau mencegah persaingan.
5. Penetapan
harga untuk memaximumkan laba.
1. Kondisi
Perekonomian
2. Penawaran
dan Permintaan
3. Elastisitas
Permintaan
4. Persaingan
5. Biaya
6. Tujuan
Manajer
7. Pengawasan
Pemerintah
Setelah
perusahaan menentukan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai, maka langkah
atau tahapan selanjutnya adalah menentukan metode penetapan harga. Secara umum
metode penetapan harga terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni :
1. Penetapan
harga berdasarkan biaya
a)
Penetapan
Harga Biaya Plus
Di dalam metode ini,
harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit
ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang dikehendaki pada unit
tersebut (margin).
Rumus
: Biaya Total+Margin= Harga Jual
b)
Penetapan
Harga Mark-Up
Untuk metode Mark-Up
ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung harga pokok pembelian per
unit ditambah (Mark-Up) jumlah tertentu.
Rumus
: Harga Beli+Mark-Up= Harga Jual
c)
Penetapan
Harga BEP (Break Even Point)
Metode penetapan harga
berdasarkan keseimbangan antara jumlah total biaya keseluruhan dengan jumlah
total penerimaan keseluruhan.
Rumus
: BEP=> Total Biaya = Total Penerimaan
2. Penetapan
harga berdasarkan harga pesaing/kompetitor
Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan harga
kompetitor sebagai referensi, dimana dalam pelaksanaannya lebih cocok untuk
produk yang standar dengan kondisi pasar oligopoli. Untuk menarik dan meraih
para konsumen dan para pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi
harga. Penerapan strategi harga jual juga bisa digunakan untuk mensiasati para
pesaingnya, misalkan dengan cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan
maksud untuk meraih pangsa pasar.
3. Penetapan
harga berdasarkan permintaan
Proses penetapan harga yang didasari persepsi konsumen
terhadap value/nilai yang diterima (price value),
sensitivitas harga dan perceived quality.
Untuk mengetahui value dari harga terhadap
kualitas, maka analisa Price Sensitivity Meter (PSM)
merupakan salah satu bentuk yang dapat digunakan. Pada analisa ini konsumen diminta
untuk memberikan pernyataan dimana konsumen merasa harga murah, terlalu murah,
terasa mahal dan terlalu mahal dan dikaitkan dengan kualitas yang diterima.
Strategi
penetapan harga adalah tahapan dimana perusahaan mengklasifikasikan dan
menggolongkan produk atau jasa yang dihasilkannya merupakan ‘produk baru’ yang
belum memiliki konsumen loyal/tetap atau ‘produk yang telah beredar’ yang telah
memiliki pangsa pasar tersendiri.
Strategi
penetapan harga ini juga berhubungan dengan siklus kehidupan produk (Product
Life Cycle)dimana suatu produk memiliki empat tahapan utama
yakni, Perkenalan, Pertumbuhan, Kematangan dan Penurunan.
Secara
khusus strategi penetapan harga ini terdiri dari ;
Produk
Baru
Dalam
menetapkan strategi penetapan harga yang efektif untuk produk baru atau tahap
perkenalan ini terdapat 2 (dua) alternatif strategi penetapan harga, yaitu
1)
Harga Mengapung (Skimming Price)
Memberikan
harga tinggi untuk menutup biaya dan menghasilkan labamaksimum (perusahaan dapat
meyakinkan konsumen bahwa produknya berbeda dengan produk sejenis yang lain.)
Pendekatan
skimming sangat efektif jika terdapat diferensiasi harga pada segmen tertentu
dan pesaing relatif sedikit. Skimming juga
dapat dimanfaatkan untuk membatasi permintaan sampai perusahaan merasa siap
untuk melakukan produksi masal. Apalagi skimming dapat
meningkatkan nilai produk menjadi sangat prestisius.
2)
Harga
Penetrasi
Memberikan
harga rendah untuk menciptakan pangsa pasar dan permintaan, strategi ini dapat
diterapankan pada situasi pasar tidak terfragmentasi ke dalam segmen yang
berbeda, serta produk tersebut tidak mempunyai nilai simbolis yang tinggi.
Pendekatan ini juga efektif terhadap sasaran pasar yang sensitif harga.
Produk Yang Telah Beredar
Strategi
penetapan harga untuk produk yang telah beredar ini tentunya tidak terlepas
dari posisi produk atau jasa tersebut dari siklus kehidupan produk, dalam hal
ini tahapan siklusnya berada pada 3 (tiga) tingkatan berikutnya setelah
perkenalan yakni;
1)
Tahap Pertumbuhan
Pada tahap
pertumbuhan ini ditandai dengan penjualan meningkat disertai munculnya pesaing.
Pada awalnya terjadi pertumbuhan yang cepat, strategi yang diterapkan
adalah tetap mempertahankan harga produk/pasar.
Ketika pertumbuhan melambat, terapkan strategi harga agresif ; menurunkan harga untuk mendorong penjualan sekaligus menghadapi
persaingan yang semakin ketat.
2)
Tahap Kematangan
Pada tahap
kematangan, fleksibilitas harga merupakan kunci efektivitas strategi penetapan
harga. Pada tahapan ini perusahaan harus benar-benar responsif terhadap situasi
pasar, konsumen maupun pesaing. Strategi penetapan harga dapat
menggunakan ‘psikologis konsumen’ maupun ‘pemotongan harga’ (diskon), sehingga
perusahaan dapat menjaga loyalitas konsumen (pangsa pasar) dan meningkatkan
jumlah permintaan dan keuntungan yang diperoleh.
3)
Tahap Penurunan
Tahap
penurunan produk atau jasa ditandai dengan menurunnya jumlah permintaan secara
terus-menerus, sebagai tahap terakhir daur hidup produk terdapat dua alternatif
langkah utama yang dapat dipilih. Pertama, strategi diskonting
(pemotongan harga) Kedua, mempertahankan harga tetapi memotong biaya-biaya
yang berhubungan dengan produk, terutama pengeluaran untuk promosi.
BAB III PENUTUP
Modal kerja adalah jumlah kekayaan atau
aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di bank, piutang
usaha dan persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi, ditambah
kewajiban atau pasiva lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.
Perputaran modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang
berupa akun-akun modal kerja. Seperi telah disebutkan diatas, bahwa
akun-akun modal kerja terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha
dan pinjaman jangka pendek.
Harga
adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk atau mungkin) yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Secara umum metode penetapan harga
terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni Penetapan harga berdasarkan biaya, Penetapan harga
berdasarkan harga pesaing/kompetitor,
dan Penetapan harga berdasarkan permintaan.
Sebaiknya materi ini untuk
kedepan nya tetap ada dalam pengajaran mata kuliah Kewirausahaan, agar
teman-teman mahasiswa dapat lebih mengtahui
tentang aspek-aspek dalam merintis suatu usaha baru, salah satunya
adalah Pengelolaan Modal dan Teknik Penetapan Harga.